The Living Legend: Toto Tewel – “Pak Tua” Yang Berhati Singa

0
497
Penulis bersama Toto Tewel. Foto: Joko 'Dolok' Prayitno.
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Oleh: Yon Moeis*

KABUT – dalam hitungan detik, perlahan-lahan – membuka lebar-lebar Gunung Merbabu. Awan lembab yang terlihat melayang-layang, seketika memperlihatkan gunung dengan tinggi 3.145 meter Dpl, di atas permukaan laut, itu, dengan utuh; Merbabu yang gagah.

Membelakangi Gunung Merapi (2.930 Dpl) yang masih tertutup kabut, Toto Tewel berdiri. Dari Selo, di kaki Merapi, ia melepas pandangan jauh-jauh. Ia lepas menikmati keindahan Merbabu dan kebesaran-NYA, selepas-lepasnya. Selo adalah kota kecamatan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Boyolali dan berada di antara Merapi dan Merbabu.

“Sudah begitu sering saya singgah ke sini, tetap saja memberikan kesejukan, kedamaian,” kata Toto Tewel.

Yogyakarta – Solo – Boyolali dan singgah di Selo, adalah jarak yang dekat tuk mengenal Toto Tewel, dalam waktu yang cukup panjang. Gitaris berhati lapang, santun, dan elok. Kesederhanaan Toto Tewel yang membuat saya menganguminya; cara ia berpakaian dan bertutur.

Di sela-sela Wellcome Party BoyJazz atau di Albero, cafe yang berada di kawasan Tebet, atau dimana pun, Toto tak akan pernah menolak ketika diminta naik panggung. Ia sangat menikmati menjalani apa yang menjadi passion-nya.

Toto Tewel – lahir di Malang, 1 Januari 1958 dengan nama Emmanuel Herry Hertoto – adalah gitaris sejati dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.

Nama Toto Tewel mulai naik ke langit ketika bergabung dengan Elpamas pada 1983. Elpamas semula dikenal sebagai “Elektronik Payung Mas” yang kemudian diplesetkan ke dalam Bahsa Jawa; “Elek-elek Pandaan Mas”, karena kelompok band ini berasal dari Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur.

Bersama Elpamas, Toto Tewel meraih hat-trick sebagai the best guitarisFestival Rock se-Indonesia pada 1984, 1985, dan 1986. Elpamas meraih gelar juara pada 1985 dan 1986, setelah sebelumnya berada di peringkat tiga pada 1984. Bersama Elpamas pula Toto ikut merilis album Dinding-dinding Kota (1998), Tato (1991), Bos (1993), Negeriku (1997), Dongeng (2000), dan 60km/jam (2003).

Toto Tewel juga ikut dalam proyek album rekaman sejumlah artis; Mel Shandy, Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C. Sasmi, Yossie Lucky, dan Metal Boyz. Toto juga pernah bergabung dengan kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, Kantanta Takwa hingga Kantata Barock.

“Dulu Bapak aku ingin aku pandai bermain biola,” kata Toto. “Tapi biola yang Bapak belikan, aku kasih ke teman Bapak,” kata Toto lagi.

Toto Tewel sudah mengenal dan mencintai musik sejak kecil. Ayahnya, pecinta musik keroncong, sering mengajak Toto kecil kemana-mana. Menurut pengakuan Toto, awalnya dia adalah bassis dengan memainkan lagu-lagu The Beatles. Pada suatu ketika, teman-temannya membutuhkan sosok player gitar, mungkin karena kecocokan itulah Totok Tewel serius menekuni instrument gitar, dan hingga jadi keterusan sampai saat ini.

Di Selo, di kaki Gunung Merapi yang berhadapan-hadapan dengan Gunung Merbabu, di ketinggian 1.770 meter di atas permukaan laut, atau setengah dari tinggi Gunung Merapi, saya mengenal lebih jauh Toto Tewel. Seperti kabut yang perlahan-lahan membuka lebar-lebar Gunung Merbabu, saya melihat hati Toto Tewel; hati yang lapang. Ia menyapa sahabat-sahabatnya lewat akun Instagram dan Twitter — dengan follower lebih dari 10 ribu – dengan apa adanya.

Ketika ia menyambangi Nova Ruth Setyaningtyas, puteri tercinta, di Belanda, awal Nopember lalu, misalnya, Toto Tewel cukup mengambil gambar sudut Schiphol, Bandara Internasional di Amsterdam. Atau mengambil salah satu sudut jalan di Belanda, atau suasana di stasiun kereta api. Ia tidak pamer sedang berada di luar negeri dan dengan cara yang ia tawarkan yang, kemudian saya mengagumi berlebih-lebih.

Kesederhanaan Toto Tewel yang membuat saya teringat Singa Afrika; hewan yang sangat kuat dan indah untuk dilihat, terutama bulu tebal di sekitar tengkuknya. Singa yang dikenal memiliki berbagai ekspresi wajah yang menunjukkan gerakan visual; juga memiliki auman yang intensitas dan nadanya bervariasi.

Di Selo, saya sempat mencoba mengetuk perasaannya dengan pertanyaan seputar lagu Pak Tua yang saya arahkan; Pak Tua adalah Toto Tewel dan Toto Tewel adalah Pak Tua. “Pak Tua adalah lagu Iwan Fals, dan ada teman mengatakan Pak Tua itu adalah saya,” kata Toto Tewel.

Pak Tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah
Oh..Ya..
Pak Tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja
Oh..Ya..
Pak Tua…

Toto Tewel belum terlihat lelah; kawan yang tak mudah menyerah. Karena ia berhati singa……

(*) Wartawan senior, Mantan pewarta Tempo, sekaligus pemerhati dunia sepak bola, kini menjadi penulis lepas di beberapa media. Tulisan di atas diambil dari laman facebook miliknya, Senin 20 Nopember 2017.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here