Lewat ‘Appassionata’ Jari Jemari Michael Anthony Mengalir Mukjizat Tuhan

0
488
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Musikpantura.com, Jakarta – Siapa bilang kekurangan menjadi penghalang seseorang untuk berprestasi? Bertebaran orang yang memiliki keterbatasan fisik namun mampu berprestasi melebihi orang yang lebih sempurna. Salah satunya, pianis Michael Antony ini.

Lewat jari jemarinya di atas tuts piano, lelaki yang kala berusia 13 tahun sudah mengantongi penghargaan rekor dunia sebagai pianis tunanetra dan autis dalam aksi mempergelar resital piano tunggal. Michael Anthony remaja kelahiran Jakarta, mampu menunjukkan kepiawaia dalam bermusik. Ia begitu lihai memainkan piano dan jadi pianis muda berbakat luar biasa peserta program Recital Master Class, pada Jaya Suprana School of Performing Arts.

Sebelum keberangkatannya untuk tampil di Sydney Opera House, Australia Musikpantura.com mendapat kesempatan menyaksikan  penampilan Michael Anthony dalam konser resital piano tunggal di Ruang Resital Erasmus Huis, Jakarta, pada Sabtu (8/4) lalu.

Menyinggung asuhannya, Jaya Suprana pun menceritakan, Michael Anthony yang terlahir mengalami tak bia melihat dan autis, tapi dia di usia 8 tahun yang sama sekali belum kenal notasi musik dan tanpa tahu siapa itu Ludwig van Beethoven.

“Tapi Michael Anthony sempat beberapa kali mendengar rekaman tiga mahasonata mahakarya Ludwig van Beethoven. Dia sudah mmpu mempergelarakan Sonata opus 13 dalam c kecil yang populer dengan sebutan Pathetique, Sonata opus 27 nomor 2 dalam cis kecil ‘Moonlight’ serta Sonata opus 57 dalam f kecil yang mashur dengan sebutan Appassionata ketiga-tiganya adalah mahakarya sang maha pujangga musik Ludwig van Beethoven,“ ucap Jaya Suprana kepada wartawan seusai Michael Anthony mempertunjukan konser resital piano tunggal di Ruang Resital Erasmus Huis, Jakarta.

Bagi bapak kelahiran Denpasar, Bali, 27 Januari 1949 menerangkan, Sekedar informasi bagi mereka yang belum tahu bahwa Appassionata merupakan mahakarya seni musik paling rumit, paling sulit, paling problematis, paling rapuh maka menjadi paling berbahaya untuk dipergelar di panggung resital.

Makanya Jaya Suprana bilang, “Perlu saya kisahkan, saya sebagai pemegang rekor dunia pianis pertama yang mempergelar resital piano tunggal dengan keseluruhan repertoar terdiri dari karya seni musik Indonesia di panggung gedung kesenian paling bergengsi di Carnegie Hall saja baru mampu mainkan Appassionata setelah babak belur, bersimbah keringat, air mata dan darah mempelajarinya selama setahun penuh. Itupun saat usia 21 tahun.”

Selanjutnya Presiden Komisaris Jamu Jago Grup, perusahaan jamu Jago yang telah beridiri sejak tahun  1918, Jaya Suprana mengatakan, meski sudah relatif mampu memainkannya, tetapi dia tidak cukup punya percaya diri untuk mempergelar mahakarya mahasulit dan maharumit di panggung resital piano tunggal.

“Makanya sore itu, sekitar tahun 2012, saya kaget ketika mendengar Appassionata dimainkan oleh entah siapa di salah satu ruang di Jaya Suprana School of Performing Arts, Mall of Indonesia, Jakarta. Teryata Michael Anthony yang memainkan Appassionata itu. Saat itu usianya maih 8 tahun yang berarti 13 tahun lebih muda disbanding saya yang waktu masih di Jerman dengan susah-payah untuk bisa main Appassionata,” kata Jaya Suprana terkaget-kaget.

“Makanya ngak bisa dibayangkan kalau ada anak umur 8 tahun penyandang tunanetera dan autis tanpa bimbingan, tanpa didikan, tanpa pengarahan siapa pun, secara mendadak langsung mampu menghafal dan memainkan Appassionata,“ ujar pianis, komponis, pemrakarsa Recital Master Class Program sebagai inkubator para pianis muda Indonesia

“Jelas bahwa kenyataan luar biasa semacam itu tidak lagi masuk kategori jenius sebab sudah merupakan mujizat yang memang hanya bisa terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa. Pada saat itu saya memang melihat fakta realita bahwa otak dan sanubari Michael Anthony sudah mampu menghayati Appassionata namun tulang dan otot jari-jemari tangan anak usia 8 tahun itu belum berkembang untuk siap mempergelar Appassionata di panggung resital piano tunggal, “ katanya serius.

Syukur Alhamdullilah dan beruntung di Jaya Suprana School of Performing punya seorang mahaguru piano alumnus Yayasan Pendidikan Musik Jakarta asuhan Empu pianis Indonesia, Iravati Sudiarso, yaitu Ivana Chandra yang selanjutnya kami percayakan untuk mendidik dan menggembangkan kemampuan tehnis pianistis dari Michael Anthony, “ pungkasnya bangga.

Sehingga penampilan Michael Anthony yang sangat memukau dalam konser resital piano tunggal di Ruang Resital Erasmus Huis Jakarta. Ia menciptakan rekor dunia sebagai pianis tunanetra dan autis usia 13 tahun, dalam resital piano tunggal dengan repertoire Jaya Suprana, sebut saja; Rhapsodia Lir IlirGeorg Friederich Haendel, Harmonious BlacksmithSergei Rachmaninoff, Prelude in g minor, op 23 no 5Felix Mendelssohn, Rondo Capriocioso, op 14Franz Liszt, Hungarian Rhapsody no 6Claude Debussy, Prelude from Pour le PianoAlberto Ginastera, Danzas Argentinas serta Ludwig van Beethoven, Sonata opus 57 dalam f kecil ‘Appassionata’.

Boleh jadi, inilah sebuah mukjizat Tuhan yang diperlihatkan lewat pianis Michael Anthony.

(asa)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here