Akhir Dari Perjalanan Troubadour Indonesia, Leo Imam Soekarno Wafat!

0
872
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Musikpantura.com, Jakarta –   Innalillahi Wa Innailaihi Raajiuun Leo Imam Soekarno atau lebih populis dengan sebutan Leo Kristi. Pemusik Troubadour ini menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Immanuel Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/5/2017), sekitar pukul 00.32WIB dini hari.

Berdasarkan kabar yang beredar, jenazah akan langsung dibawa ke rumah duka di bilangan Jalan Bongas 2 E7 No.17, Jatiwaringin Asri, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Kepergian selamanya Leo Kristi menjadi perhatian netizen, tak terkecuali para pegagum yang populis dengan sebutan LKer’s, mereka ramai membuat hastag #LeoKristi

Padango kubure, jembaro dalane”. Satu persatu legenda musik “folk” yang sesungguhnya berpulang. Terima kasih sudah mewarnai dan memberikan karya-karya indah semasa hidup. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana menjadi musisi “berbahaya” yang membumi. Semoga, diterima semua kebaikan dan dimaafkan segala kekurangan sebagai manusia biasa….dan semoga, kita bisa meneruskan semangatmu berkarya untuk tidak menjadi generasi musisi “folk” palsu,” tulis akun iksan_skuter.

Sementara mencomot dari akun cuk_riomandha, menuliskan “Gugur sudah usia tua tahun pun berganti rasa kasih sayang. Gugur sudah dunia tua zaman pun berganti daya manusia. Gugur sudah berat resah hati remuk redam: cinta Ada di sana kita menuju bersama selamat tinggal kegelapan: kepada-Mu.” (Gugur Tahun – Leo Kristi). RIP Leo Kristi. 8 Agustus 1949 – 21 Mei 2017.

Wafatnya musisi pengelana bukan tanpa sebab, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit semenjak akhir April 2017. Kondisi kesehatan Leo Kristi yang takmenguntungkan disebabkan dari diare yang telat penanganannya. Bahkan dokter yang mendiagnosa, ginjal Leo Kristi bermasalah.

Musisi yang sangat lekat dengan konsistesi sikap, kemandirian, dan semangat cinta tanah air di kalangan pewarta, Leo terbilang sosok yang sulit dicari, namun bisa tiba-tiba muncul dan menggelar konser bersama kelompoknya Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK) yang ia bangun bersama bersama kawan-kawanya, antara lain; Naniel, Mung Sriwiyana, kakak beradik Lita Jonathans dan Jilly Jonathans, Tatiek, Yayuk, Ote Teguh Abadi, Komang Djayanegara, Tjok Bagoes, penyanyi kakak beradik Yana dan Nana van Derkley, Markis Alkatiri, Wahab, Cecilia Mars, Jimmy Sila’a.

Selama perjalanan karir berkesenian KRLK telah menelurkan karya-karyanya ke dalam media pita kaset dan menjadi barang langka yang menjadi buruan penikmat musik Indonesia, adalah Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985), Deretan Rel Rel Salam Dari Desa (1985, aransemen baru), Diapenta – Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993), Tembang Lestari (1995, direkam pada CD terbatas), Warm, Fresh and Healthy (17 Desember 2010), serta Hitam Putih Orche (2015).

Seperti halnya Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh (meningal di Surabaya, Sabtu, 9 Januari 1988) dan Franky Hubert Sahilatua (meninggal di Jakarta Selata, Rabu, 20 April 2011) yang telah beristirahat tenang di pangkuan-NYA. Hari ini, dunia musik Indonesia kembali dikejutkan dengan wafatnya musisi yang juga pandai melukis, Leo Kristi kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949 yang mengawali dalam setiap aksi panggung terbiasa mengenakan jubah hitam lengkap dengan lambang garuda melekat di kerah lehernya.

Selamat jalan, Mas Leo Kristi…

(asa)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here